Anda agen Assalam ? (Refleksi Idul Fitri 1442 H)
Oleh : Yusuf. S.
Ditengah semarak bahagia umat islam menyambut datangnya idul fitri beberapa hari lagi, saudara kita di Palestina mengalami hal yang sebaliknya. Mereka diusik dalam kekhusyuan bertawajjuh kepada Allah dalam shalat tarawih di Masjidil Aqsha.
Daripada itu, hakikatnya setiap manusia menginginkan ketenanangan. Kita sebagai bangsa Indonesia patut bersyukur bisa dalam keadaan damai, dengan cara terus mendoakan yang terbaik untuk saudara kita di Palestin atau di berbagai Negara lainnya. Hubbul wathan minal iman; mencintai negri sebagaian dari pada iman, sudah didengungkan jauh-jauh hari oleh para ulama pendahulu kita.
Dihari idul fitri ini kita bisa berefleksi dengan berbagai kejadian yang terus melanda. Saling memberikan rasa aman, keselamatan dan saling mejaga merupakan benang merah dari idul fitri yang bermakna kembali kepada fitrah manusia, yang harus kita ingat.
Dalam kitab mu’jam mufahras lialfadzil qur’an kata al-salam dalam Qur’an disebutkan sebanyak 23 kali, kata salam (tanpa alif dan lam) 18 kali dan kata Al-Salam (dengan diawali alif dan lam) sebanyak 5 kali. Kebanyakan kata salam beriringan dengan kata darr, darussalam.
Al-Salâm, secara bahasa bermakna as-Salâmah, yaitu selamat dari aib dan kekurangan. Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata: "kata As-Salâm dengan didahului alif dan lam bermakna yang selamat dari segala aib dan kekurangan, karena kesempurnaan dzat, sifat dan perbuatan-perbuatan Allah.
Imam asy-Syaukâni rahimahullah berkata: “kata As-Salâm, artinya yang selamat dari semua kekurangan dan aib".
Muslim yang taat melaksanakan shalat sekurang-kurangnya dia mengucapkan kata salam ini sebanyak 28 kali, masing-masing 6 kali pada saat melaksanakan shalat Zhuhur, Ashar, Maghirb, dan Isya, dan 4 kali waktu melaksanakan shalat Subuh.
Kita mengucapkan salam pada saat tahiyat pertama dan tahiyat kedua untuk shalat yang 3 rakaat dan 4 rakaat, serta mengucapkan 4 kali kata salam pada saat shalat Subuh. Kata salam yang kita ucpakan dalam shalat yaitu :
(1) Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyy artinya kita memohon doa kepada Allah untuk keselamatan Nabi Muhammad (Shalawat).
(2) Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ibadillaahish-shalihin, artinya kita memohon kepada Allah untuk keselamatan kita dan keselamatan semua hamba-hamba Allah yang shaleh, termasuk orang tua, keluarga, dan lain-lain.
(3 dan 4) Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh, ucapan salam ke semaping kanan dan samping kiri waktu mengakhir shalat. Artinya memohon doa kepada Allah untuk keselamatan kalian, seluruh manusia yang ada di samping kanan dan samping kiri kita. Ini menunjukkan bahwa begitu pentingnya keselamatan bagi kita dan semua orang.
Kata al-Salaam tidak hanya mengandung makna keselamatan, kedamaian, ketenteraman dan ketenangan, tetapi juga mengandung makna yang sangat banyak.
Ada wirid pendek yang selalu kita baca usai shalat fardu. Di dalamnya terdapat kata al-salam yang diulang ulang, wirid tersebut yaitu
“اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعود السلام فحينا ربنا بالسلام وأدخلنا الجنة دار السلام”
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhan Yang Maha Menyelematkan. Keselamatan, kedamaian, dan ketenangan adalah dalam genggaman-Mu. Dari Engkau Al-Salam (keselamatan) itu datang dan kepada-Mu pula al-Salam itu kembali. Lalu ucapkan kepada kami, wahai Tuhan Yang Maha Mengatur, dengan ucapan al-Salam ketikan kami akan memasuki Surga-Mu, dan masukanlah kami ke dalam Surga, negeri yang penuh dengan keselamatan, kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan.
Dengan wirid tersebut kita selalu memohon kepada Allah keselamatan, kedamaian, dan ketenangan, dan ketentaraman lahir dan batin, dunia dan akhirat. Kita selalu memuji Allah dengan sifatnya Al-Salaam, dan berdoa agar kita mendapatkan al-salaam itu.
Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Menyelamatkan dengan sifat-Nya al-Salaam itu.
Allahlah yang menyelamatkan mereka dari segala ujian dan cobaan dunia.
Allah pulalah yang menyelamatkan mereka dari siksaan api nereka. Allah pulalah yang memasukkan mereka ke dalam Surga, negeri yang penuh dengan keselamatan dan kedamaian.
Seorang mukmin yang shaleh harus meneladani sifat-sifat Allah, salah satunya adalah sifat al-Salaam itu.
Rasulullah bersabda “Salah satu cabang iman itu adalah menjauhkan duri dari jalanan agar tidak diinjak oleh orang lain ketika melewati jalan itu. Nabi juga bersabda bahwa “Seorang muslim sejati adalah yang mampu menyelamatkan orang lain dari bahaya mulutnya dan bahaya tangannya.”
Manusia yang memiliki dan meneladani sifat Allah Al-Salaam itu pasti melakukan hal-hal yang menyelamatkan kaum muslimin yang lain dan sesama manusia agar terhindar dari hal-hal yang mencelakakannya.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dihari saling maaf-memafakan ini, dengan terus menebar kedamaian dan ketenangan.
Wallahu alam.
Sabtu,15 Mei 2021/1442 H
Penulis, Khadim.
Komentar
Posting Komentar