Perempuan Sumur, Dapur dan Kasur
Perempuan dalam budaya patriarki
Oleh : Umroh
Budaya patriarki masih setia berekembang dikehidupan Masyarakat kita, budaya patriarki ini dapat kita temukan dalam beragam segi kehidupan seperti politik, budaya, pendidikan, ekonomi dsb.
Budaya tersebut melahirkan akan ketidaksetaraan gender yang menempatkan laki-laki sebagai bagian yang kuat dan berkuasa dibandingkan dengan perempuan.
Kebanyakan dari Masyarakat kita beranggapan bahwa perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi-tinggi karena pada akhirnya akan kembali pada sumur, dapur dan kasur.
Bahkan dalam satu keluarga yang memiliki kecukupan finansial sekalipun biasanya orang tua akan memilih untuk menomorsatukan pendidikan anak laki-laki dari pada anak perempuannya. Hal demikian menyebabkan anak perempuan kesulitan untuk mendapatkan akses pengetahuan.
Mengenai fitrah perempuan, jika kita beranggapan bahwa sumur dapur dan kasur merupakan fitrah seorang peremuan, lantas buat apa Tuhan menciptakan potensi kita untuk menjadi apa saja, menebar lebih banyak kebaikan dan setara dengan laki-laki.
Islam sebagai Agama yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan persamaan memuat prinsip-prinsip kesetaraan seperti laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai Hamba Tuhan.
Setiap Manusia diciptakan dengan hak yang sama, baik itu laki-laki atau perempuan. Maka dari itu, seharusnya mereka memiliki hak yang sama dalam hal mendapat pekerjaan, pendidikan, mengambil keputusan dsb.
Budaya patriarki juga memposisikan perempuan sebagai “the second class” atau yang sering kita dengar dengan sebutan “warga kelas kedua” yang kehadirannya tidak diperhatikan.
Dengan adanya budaya patriarki yang kuat telah menempatkan kedudukan perempuan pada posisi yang lemah dan seolah tak berdaya, sehingga rawan terjadinya perlakuan tindak kekerasan seperti halnya kekerasan seksual.
Bahkan tak jarang perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual malah disalahkan, misalnya dengan menyalahkan cara berpakaiannya, pakaian perempuan sering dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan kekerasan seksual.
Hal diatas menunjukkan bagaimana budaya patriarki yang melekat dalam pola pikir masyarakat kita sangat kuat dan menjerat kedudukan perempuan pada posisi subordinat dan inferior terhadap posisi laki-laki.
Dalam hal ini sebenarnya perempuan tidak perlu dilindungi, karena kata “dilindungi” merupakan kata yang secara tidak langsung membenarkan bahwa perempuan adalah kaum yang lemah.
Penulis, Alumni PP Almuna dan mahasiswi jurusan IAT IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Komentar
Posting Komentar