TELAPAK TANGAN
By : Flm
Dunia dengan segala fatamorgananya telah mampu mengikat jutaan manusia. Menuruni lembah hedonisme yang sarat akan kebahagiaan yang semu. Rasa tak sudi bercermin sifat kezuhudan para anbiya sekaligus Khulafaurasyidin telah luput dari hati. Sorak-sorai dunia kian melemahkan iman kaum muslimin.
Suguhan fatamorgana dunia semakin kuat mencengkram iman mereka yang lemah. Bertambah pula kecanggihan teknologi yang semakin mempermudah hidup yang mana dari kecanggihan teknologi itu banyak yang kian membuat generasi anak-anak masa kini patuh pada gawai.
Kita tahu bahwa itu semua hanyalah sementara. Dalam hati kita pun meyakini hal tersebut. Akan tetapi mengapa seolah kita tidak bisa terlepas? Bahkan untuk menjauh dengan cara merangkakpun begitu sulit.
Memang begitulah jika sudah cinta terhadap dunia, rasanya begitu nyaman hingga lupa untuk apa sebenarnya kita diciptakan. Kesibukan yang menerjang kehidupan membuat kita tak memiliki banyak waktu luang untuk Sang Illahi Rabbi. Dan masalah demi masalah banyak berujung pada bunuh diri.
Kita seperti kacang lupa kulit. Hingga enggan untuk menjumpai tanah pekuburan.
Bukankah sudah Allah swt tegaskan dalam surah Adz-dzariyat ayat 56 yang artinya "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku".
Adakah dalam diri kita ingat apa yang sebaiknya dilakukan oleh seorang muslim?.
Rasulullah Saw adalah suri tauladan dari semua sendi kehidupan. Kemurnian akhlak beliau tak tersentuh oleh lezatnya duniawi. Bahkan Rasulullah Saw rela hidup sengsara demi umatnya. Dalam buku yang berjudul Kisah Kezuhudan Teladan Orang-Orang Shaleh karya Nasiruddin S.Ag MM itu menyuguhkan cerita tentang orang-orang shaleh yang zuhud kepada dunia. Pembukaan buku itu sendiri dimulai dari manusia termulia di dunia, Rasulullah Saw. Sungguh betapa Rasulullah Saw menjalani kehidupan ini dengan amat sederhana. Tidur diatas tikar yang terbuat dari pelepah kurma hingga membekas di bagian belakangnya. Bahkan terkadang Rasulullah pernah mengikat perutnya dengan batu demi menahan lapar yang begitu sangat.
Selanjutya diceritakan pula kezuhudan para sahabat Rasulullah saw. Hingga kemudian orang-orang shaleh berikutnya. Mereka mampu bertahan menyisihkan setiap waktu untuk terus bermunajat kepada Allah. Ada pula kisah seorang wanita yang hanya makan sayuran dan tidak pernah kenyang selama 50 tahun lamanya. Mereka rela menukar kelezatan duniawi dengan kelezatan yang hakiki. Sebab dunia bagi mereka hanya sebatas telapak tangan.
Ya! Telapak tangan.
Sesempit itulah hidup di dunia seandainya kita mau memahaminya lebih dalam. Dalam sempitnya telapak tangan, kita dapat memanfaatkannya sebaik mungkin. Agar dalam sempitnya itu kita menemui keluasan hidup dengan mengarahkan seluruhnya kepada Sang Pemilik Hidup. Kendati demikian, kita memang seringkali terlepas dari zona telapak tangan itu. Setan seperti janjinya bahwa ia takkan pernah berhenti menggoda umat manusia hingga kiamat kelak. Kesungguhan mereka terlihat ketika mampu membawa anak cucu adam terlibat dalam maksiat satu per satu.
Al-qur’an sebagai pedoman pegangan manusia terdapat berbagai ayat seperti pada surat Al-An’am menerangkan bahwasanya “Dan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan neageri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
Memiliki hidup seperti telapak tangan merupakan salah satu sebagai jalan menuju ketakwaan, supaya mawas diri, mencegah dari keterlenaan menjalani kehidupan. Sesungguhnya kita dihadapkan pilihan yang tidak terlalu sulit. Namun, perlu tingkat kejelian yang tinggi. Cerdik akal untuk apa kita menikmati sesuatu hal yang sifatnya sekali saja. Sedangkan kita tahu malaikat Izrail terus berkeliling. Kain kafanpun sudah tersedia dengan begitu apik. Siap pakai kapanpun.
Banyak ayat maupun kisah yang mengingatkan kita tentang kehidupan sementara ini. Apakah semua hanya angin lalu saja, atau peringatan sesaat? Kita tentu sering menyaksikan seseorang yang mendahului kita menuju Allah swt. Ia pun sama seperti kita ingin menjalani kehidupan keesokan harinya. Namun, sayang semua hanya tinggal mimpi belaka. Memang benar bahwa hidup dimulai dengan diazani kemudian disalati. Begitu singkat dan sempit, sesempit telapak tangan. Untuk itu mari kita merenungi kehidupan orang-orang yang menjadikan hidup seumpama telapak tangan sebagai upaya menekan agar kita tidak semakin terjerumus pada kenikmatan dunia.
#renungan#religi
Penulis adalah anggota dari FLP Cirebon (Forum Lingkar Pena) sebuah forum yang konsen dalam penulisan.
Komentar
Posting Komentar