Malam dalam Al Qur'an
Malam dalam Al Qur'an
Oleh : Laila
Terkadang Allah mengunakan qasam (sumpah) di dalam Al-Qur`an untuk memperkuat sesuatu yang ingin disampaikan.
Menurut As-Suyûthî, “Sesungguhnya Al-Qur`an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab dan sebagian dari kebiasaan bahasa Arab adalah menggunakan sumpah ketika hendak memperkuat suatu hal”.
Sesuatu yang dijadikan sumpah (muqsam bih) di dalam Al-Qur`an, terkadang menggunakan Dzat Allah atau dengan sifat-Nya. Seperti QS. Al-Hijr (15): 92.
Terkadang pula menggunakan sebagian makhluknya. Sumpah dengan menggunakan sebagian makhluk ini merupakan salah satu dari keagungan-Nya.
Abû Al-Qasam Al-Qusyairî menjelaskan bahwa “jika Allah menyebut sesuatu berarti sesuatu itu memiliki manfaat atau memiliki keutamaan tertentu”.
Kata al-lail (malam) merupakan salah satu kata sebagian makhluk yang dijadikan sumpah di dalam Al-Qur`an. Kata al-lail diulang 92 kali di dalam Al-Qur`an.
Ayat-ayat tersebut dapat dilihat, apakah kata al-lail hanya sebagai keterangan waktu saja atau mengandung isyarat makna lain. Al-Qur`an memuat pula sebuah surat yang bernama Al-Lail. QS tersebut merupakan nomor ke 92 di dalam urutan mushaf Al-Qur`an. Hal ini bertepatan dengan jumlah pengulangan kata al-lail di dalam Al-Qur`an.
Malam memiliki banyak makna. Malam mengandung makna positif, diantaranya ialah malam sebagai waktu; beribadah, bertafakkur, beristirahat, terjadinya kejadian luar biasa seperti lailah al-qadar, simbol keindahan, kesunyian, dan ketenangan. Selain itu, malam juga merupakan fenomena alam.
Malam sebagai waktu yang menakutkan atau mengandung makna negatif diantaranya adalah malam menjadi waktu; berkeliarannya jin, terjadinya kejahatan kriminal, kecelakaan, intrik politik seperti serangan fajar, sihir, dan maksiat.
1. Ayat-ayat Malam sebagai Sumpah
Penafsiran ayat sumpah dengan malam yang berifat gelap terdapat pada penafsiran QS. At-Takwîr [81]: 17 dan QS. Adh-Dhuẖâ [93]: 2. ‘As’as diucapkan untuk menghadapi malam dan akhir malam. Thabâthabâ`î mengutip dari Raghib bahwa “wa al-laili idzâ ‘as’as” maksudnya menjelang malam dan sesudah malam, dan demikian itu dipermulaan malam dan akhir malam, maka ‘as’as adalah lembutnya kegelapan dan demikian itu terjadi di dua ujung malam
2. Tafakkur dengan akal
QS. Al-Furqân [25]: 62
Menurut Thabâthabâ`î, ayat ini menunjukkan atas penggantian siang dan malam untuk mengingat Allah dan bersyukur kepada-Nya.
Adapun yang dimaksud dengan mengingat adalah kembali kepada sesuatu yang diketahui manusia dengan fitrahnya dari alasan-alasan yang menunjukkan kepada pengesaan Tuhannya dan apa saja yang layak bagi Allah Ta’ala dari sifat-sifat dan nama-nama-Nya, klimaksnya yaitu beriman kepada Allah dengan banyak bersyukur baik melalui perkataan maupun perbuatan atas kenikmatan yang telah Allah berikan.
Disarikan dari skripsi "Kajian Tafsir kata Malam dalam Al Qur'an" Jurusan Tafsir Hadits.
Komentar
Posting Komentar