Kita hidup untuk apa?

Tujuan Ibadah
Oleh : Umroh

Ibadah, ya tujuan hidup kita hanya beribadah kepada Allah rob semesta alam. 

Pengertian Ibadah menurut terminologi memiliki arti Perbuatan atau pernyataan bakti terhadap Allah atau Tuhan yang didasari oleh peraturan agama. Ibadah adalah ungkapan rasa syukur kita terhadap Allah swt atas segala pemberian-Nya.
 Kita sebagai hamba-Nya sudah menjadi keharusan untuk beribadah kepada Allah. 
Allah Swt menciptakan hamba-Nya agar mereka menyembah hanya kepada Allah semata. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Al-Quran Surat Adz-Dzariyat ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" (Q.s Adz-Dzariyat:56)

Dengan adanya konteks ini, manusia selalu merasakan kebutuhan akan Tuhan,Allah Swt memberitahu kepada kita semua Manusia bahwa Dia (Allah) tidak membutuhkan kita (Manusia), bahkan sebaliknya kita lah yang membutuhkan-Nya dalam segala situasi maupu  kondisi. Karena Dialah Yang menciptakan Manusia dan yang memberinya rizki.

Menurut  Syeikh Muhammad Abduh yang dikutip oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, MA dalam tafsir al-Misbah nya yakni Ibadah bukan hanya sekadar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ia juga merupakan dampak dari keyakinan bahwa 
pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakikatnya.

Ibadah terdiri dari dari dua macam yaitu ibadah murni (mahdhah) dan ibadah tidak murni (ghairu mahdhah). 
Ibadah mahdhah adalah ibadah yang sudah ditentukan oleh Allah, bentuk, kadar, atau waktunya, seperti shalat, zakat, puasa dan haji. 
Sedangkan Ibadah ghairu mahdhah adalah segala kegiatan baik lahir maupun batin manusia yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sayyid Quthub mengomentari ayat tersebut secara panjang lebar. Antara lain ditegaskannya bahwa ayat di atas walaupun sangat singkat namun mengandung hakikat yang besar dan agung. Manusia tidak akan berhasil dalam kehidupannya tanpa menyadari maknanya dan meyakininya, baik kehidupan pribadi maupun kolektif. Ayat ini menurutnya membuka sekian 
banyak sisi dan aneka sudut dari makna dan tujuan. Sisi pertama bahwa pada hakikatnya ada tujuan tertentu dari wujud manusia dan jin, ia merupakan satu tugas. Siapa yang melaksanakannya maka dia telah mewujudkan tujuan wujudnya, dan siapa yang mengabaikannya maka dia telah membatalkan 
hakikat wujudnya dan menjadilah dia seseorang yang tidak memiliki tugas (pekerjaan), hidupnya kosong tidak bertujuan dan berakhir dengan 
kehampaan. Tugas tersebut adalah ibadah kepada Allah yakni penghambaan diri kepada-Nya. Ini berarti di sini ada hamba dan di sana ada Allah. Di sana ada hamba yang menyembah dan mengabdi serta di sana ada Tuhan 
yang disembah juga diarahkan pengabdian hanya kepada-Nya. Sayyid Quthub kemudian menjelaskan bahwa dari pengertian di atas menonjol sisi yang lain dari hakikat yang besar dan agung itu yakni bahwa pengertian ibadah bukan hanya terbatas pada pelaksanaan tuntunan ritual, karena jin dan manusia tidak menghabiskan waktu mereka dalam pelaksanaan ibadah ritual. Allah tidak mewajibkan mereka melakukan hal tersebut. Dia mewajibkan kepada mereka aneka kegiatan yang lain yang menyita sebagian besar hidup mereka. Tugas kekhalifahan termasuk dalam makna ibadah dan dengan demikian hakikat ibadah mencakup dua hal pokok.

Pertama, Kemantapan makna penghambaan diri kepada Allah dalam hati setiap insan.

Kedua, Mengarah kepada Allah dengan setiap gerak pada nurani, pada setiap anggota badan dan setiap gerak dalam hidup.

Penulis : Mba Umroh. 
Penulis merupakan mahasiswi jurusan Tafsir Hadits, dan Alumni PP Almuna. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Pendidikan Pesantren

Manfaatkan Waktu Dengan Sebaik - baiknya