Cara Islam Mencetak Pemuda Hebat
Peristiwa konyol tapi mampu membuat kita mengelus dada terjadi di Soreang, Bandung, pada Kamis, 2/6/2022 lalu. Seorang remaja berusia 14 terseret truk hingga 50 meter. Usut punya usut, peristiwa nahas ini dilatarbelakangi oleh ulah korban dan satu temannya yang nekat menghadang truk yang sedang melaju dengan kencang hanya demi konten viral.
Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami luka berat dan kini menjalani perawatan di rumah sakit. Selain empat giginya rontok, korban juga mengalami retak di bagian tempurung kepala bagian belakang.
Dari kasus viral tersebut, dapat kita lihat bahwa kelakuan remaja saat ini penuh gaya hidup hedonis (mencari kesenangan tanpa batas).
TikTok tren tersebut bernama “Malaikat Kematian”. Konten berisi cerita remaja yang terlihat seperti akan tertabrak sebuah truk, tetapi beberapa detik kemudian mereka berhasil menghindarinya.
Alasan para pelaku melakukan tantangan maut ini termasuk sangat sepele. Hanya karena mereka ingin terkenal di media sosial dan mendapatkan keuntungan banyak.
Menurut Drajat Tri Kartono,
Sosiolog Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), fenomena tersebut mencermikan upaya “mendewakan” identitas.
Menurutnya, para remaja ini lebih ingin menunjukkan identitas atau eksistensinya daripada fungsi diri.
“Jadi lebih ke arah identiti daripada fungsi diri, memamerkan ‘siapa saya’ lebih penting,” kata Drajat.
Hedonis Kapitalis Merusak Moral Remaja
Pola hidup hedonis mengantarkan remaja pada arus kapitalisme, yang memaksa mereka untuk tunduk dan patuh pada nilai-nilai sekularisme.
Tujuannya tidak lain adalah sebagai berikut:
Pertama, untuk mendapatkan materi dan lalai akan hukum syara’. Kehidupan hedonis telah menjerumuskan remaja untuk tidak menjaga kehormatannya.
Budaya-budaya Barat diadopsi, perilaku-perilaku yang bertentangan dengan hukum syara’ dianggap biasa.
Pandangan Sistem Kapitalisme tentang kehidupan dunia adalah untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Manusia tidak lebih berharga dari sebuah barang. Wajar dalam Sistem Kapitalis ini remaja menjadi objek bisnis yang diperjualbelikan dan dieksploitasi seperti barang dagangan. Remaja sebagai objek ekonomi dapat dimanfaatkan dan dijerumuskan ke dalam lubang kehinaan.
Sistem Kapitalisme rusak sejak awal, karena asasnya telah menuntun manusia agar menjauhkan agama dari kehidupan. Agama dianggap sebagai racun yang menghambat kemajuan.
Suatu hal yang wajar, generasi tumbuh dalam Sistem Kapitalisme sebagai generasi yang ingkar kepada syariat-Nya.
Kedua, untuk mengekspresikan kebebasan manusia yang mendorongnya untuk berbuat sekehendaknya. Tak ada lagi standar hidup, halal-haram, benar-salah.
Ketiga, untuk berlomba-lomba menikmati kemewahan dan kesenangan duniawi.
Pemuda dalam Daulah Islam.
Islam membebaskan remaja dari Kapitalisme sekaligus menjadi solusi yang mengangkat harkat dan martabat manusia, memberikan keadilan dan kesejahteraan tanpa diskriminasi.
Remaja seharusnya berprestasi dan mampu melejitkan segala potensi dirinya. Potensi yang dia miliki dapat bermanfaat untuk kemaslahatan umat.
Mayoritas remaja kini kehilangan arah (tujuan) hidup. Mereka bingung bagaimana menatap masa depan, dan bingung bagaimana menghabiskan masa mudanya.
Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyiapkan pertanyaan khusus usia muda. Allah akan meminta pertanggung jawaban usia muda setiap manusia, bukan usia tuanya. Rasulullah saw bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki anak adam di hari kiamat hingga dia dimintai pertanggung jawaban tentang lima hal: Umurnya: untuk apa dia pergunakan, masa mudanya: untuk apa dia habiskan, hartanya: dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan, serta apa yang telah ia amalkan dari ilmu pengetahuannya (agamanya).” (HR. At Turmudzi).
Seperti pada masa kejayaan Islam, remaja-remaja digembleng sejak usia dini sebagai mutiara umat. Diawali dengan menerapkan pendidikan agama yang kuat, kemudian dibina menjadi pribadi haus akan ilmu. Cinta pada Alquran, semangat untuk mempelajarinya, mengamalkannya dan mengajarkannya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adzariyat 56).
Tujuannya bukan untuk memperoleh materi duniawi, melainkan hanya ingin meraih rida Allah.
Sistem pendidikan yang diterapkan negara khilafah pada masa itu membakar ghirah remaja untuk terus menimba ilmu.
Tidak ada tontonan yang tidak berkualitas. Yang ada hanyalah semangat berguru langsung pada teladan kehidupan, yakni para ulama.
Sejarah telah membuktikan betapa Islam melahirkan banyak remaja cemerlang dalam berbagai bidang.
Seperti Abu Ali al-Husein Ibnu Sina, seorang ilmuwan muslim dan filosof besar pada waktu itu. Pada usia 10 tahun sudah hafal Alquran dan di usia 18 tahun sudah mampu menguasai semua ilmu yang ada.
Ada juga sahabat yang luar biasa, di antaranya:
Zubair bin awam, seorang shahabat yang sangat terkenal. Beliau pahlawan yang gagah berani, pembela Nabi.
Tahukah kita pada usia berapa beliau sudah menjadi pejuang dan pahlawan Islam saat itu? Beliau baru berusia 15 tahun! Sebuah usia seorang ‘anak’ yang saat ini sedang duduk di kelas 9 SMP.
Thalhah bin Ubaidah, seorang shahabat mulia yang dijuluki Rasulullah “Thalhah Al Khair” atau Thalhah yang baik. Pada saat itu, ia baru berumur 16 tahun. Saat ini seumuran anak kelas 10 SMA.
Sa’ad bin Abi Waqqash. Seorang pahlawan Uhud yang pandai memanah. Beliau saat itu baru berumur sekitar 17 tahun.
Remaja-remaja berprestasi dan memiliki potensi cemerlang akan bisa terwujud jika mereka dididik dengan suasana keimanan yang kuat dan berada dalam naungan Sistem Islam yang diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Naungan Sistem Islam tersebut adalah Daulah Khilafah Rasyidah yang akan mencetak generasi tangguh untuk memuliakan Islam.
Wallahu a’lam bishawwab.
Komentar
Posting Komentar